Untitled Document
Kamis , 30 Apr 2026 Today : 353 - Total : 669,655  
Berita ITC Website Aktivitas Biodata  
Index
 
 
 
 
 
Perubahan Sosial Lewat Mouse?
[Senin, 24 Mar 2008 (105557 x]
 
 
Jaja, seorang anak laki-laki dari Darfur, Sudan, lari terengah-engah sambil membawa jeriken berisi air melintasi padang pasir. Air itu harus sampai ke kamp pengungsian atau para pengungsi akan kehausan. Anak lelaki berusia 12 tahun ini harus waspada karena milisi Janjaweed berkeliaran dengan jip terbuka, bersenjata lengkap.

Jika ketahuan milisi kejam itu, Jaja bisa celaka. "Sembunyi Jaja! Sembunyi! Ada milisi Janjaweed!"

Itu adalah salah satu alur cerita game online bernama "Darfur is Dying" yang mengambil tema konflik di Darfur, Sudan. Game yang dikembangkan sekelompok mahasiswa dari University of Southern California ini merupakan salah satu bagian dari makin berkembangnya gerakan "game untuk perubahan" (Game for Change/G4C).

Permainan (game) "Darfur is Dying" hanya satu dari sekian banyak game yang mengampanyekan perubahan sosial. Game ini tersedia gratis di situs www.darfurisdying.com dengan cara memainkan yang cukup sederhana.

Dalam situs itu disebutkan, di Darfur yang terletak di kawasan barat Sudan, warga sipil menghadapi ancaman pembunuhan massal, penyiksaan, pemerkosaan, penghancuran tempat tinggal, serta pelanggaran hak asasi lain yang dilakukan milisi Janjaweed.

Sejak konflik pecah tahun 2003, sedikitnya 300.000 orang tewas dan 2,5 juta lainnya mengungsi. Realitanya, situasi di negeri itu sangat memprihatinkan dan dunia dinilai tidak berusaha keras menghentikannya.

Selama ini sebagian orang beranggapan bahwa game hanya menambah kemalasan, kekerasan, dan kecanduan, sebab game- game bertemakan kekerasan begitu banyak. Namun, sejumlah pihak mencoba membuat game yang mengampanyekan antikekerasan atau perubahan sosial dengan cara yang menghibur. Mereka ingin memberikan "generasi joystick dan mouse" pada sebuah pendidikan politik.

Dengan memanfaatkan berbagai media, salah satunya lewat jalur internet, game-game bertema "perubahan sosial" disebar untuk menggugah kesadaran dunia bahwa ada warganya yang tengah terancam keberadaannya karena genocide, perang, kelaparan, dan pemanasan global.

Tidak hanya isu-isu besar, tetapi ada juga desainer yang mengembangkan game dengan tema bagaimana agar seorang anak bisa belajar untuk bertahan menghadapi perceraian orangtuanya.

Lapar dan miskin

Tak ketinggalan, badan PBB, World Food Program (WFP), juga mengeluarkan sebuah game untuk membangun kesadaran warga dunia, yaitu "Food Force".

Mereka mencoba membuka mata dunia bahwa ada 800 juta warga dunia—lebih besar dari gabungan populasi di Amerika Serikat, Kanada, dan kawasan Eropa barat—yang ternyata masih menderita kelaparan.

Seorang anak tewas setiap lima detik karena penyakit yang terkait dengan kelaparan. Lebih banyak orang tewas karena kelaparan daripada akibat peperangan.

Setting game "Food Force" adalah sebuah pulau fiktif bernama Shyelan di Samudra Hindia yang didera kekeringan dan perang saudara.

Karakter yang dimainkan adalah mereka yang baru masuk tim ahli PBB, termasuk ahli gizi, ahli logistik, pilot, dan direktur pembelian makanan.

Menjalankan misi

Ada enam misi yang harus mereka jalankan, di antaranya air surveillance untuk mencari warga kelaparan dengan menggunakan helikopter. Energy pacs untuk membuat makanan yang seimbang dari beras, minyak, kacang, gula, dan garam dengan dana hanya 30 sen (sekitar Rp 3.000) per hari.

Misi berikutnya adalah air drop, yakni menjatuhkan suplai makanan lewat udara. Locate and dispatch untuk mengoordinasi persediaan dari pembelian atau donor.

Food run adalah salah satu misi untuk membawa konvoi truk makanan melewati ranjau darat dan barikade jalan. Future farming, menggunakan makanan untuk membantu mengembangkan pedesaan.

Game ini harus diunduh (download) lebih dulu dari situs http://www.food-force.com. Setelah selesai mengunduh food_force_installer.exe sebesar 221 megabyte (waktu unduh sekitar 50 menit untuk koneksi internet rumahan), eksekusi file ini untuk melakukan instalasi.

Para pengguna diimbau memperbanyak game ini dalam bentuk CD untuk dibagikan kepada orang lain.

Game lain bertema "humanitarian" adalah "Ayiti: The Cost of Life". Bagaimana rasanya hidup dalam kemiskinan, harus berjuang setiap hari agar tetap sehat, agar bisa keluar dari jeratan utang, dan mendapatkan pendidikan?

Anda yang selama ini hidup berkecukupan bisa "merasakan" bagaimana menjalani segala kesulitan hidup dengan sebuah game yang dikembangkan murid-murid SMA di Global Kids dan desainer game di Gamelab.

Game ini tersedia gratis di http://www.unicef.org/voy/explore/rights/explore_3142.html, bisa dimainkan secara online.

Lewat game ini, badan PBB, Unicef, berharap bisa membangun kesadaran dunia bahwa masih banyak orang yang sulit bertahan hidup, mendapatkan pendidikan, sambil berupaya untuk tetap sehat di tengah keterbatasan. "Ayiti" mengambil setting di pedesaan Haiti.

Pemanasan global

Sejumlah pihak juga mengembangkan game untuk memberikan kesadaran soal bahaya global warming (pemanasan global). Seperti telah diketahui, isu pemanasan global menghasilkan perdebatan di ranah politik dan ekonomi.

BBC bersama Red Redemption membuat sebuah game bernama Climate Challenge. Game ini tersedia gratis di situs BBC, www.bbc.co.uk/sn/hottopics/climatechange/climate_challenge.

Untuk memainkannya, Anda harus memiliki perangkat lunak (software) Flash 8 Player yang bisa diunduh secara gratis.

Pemain berperan sebagai presiden sebuah negara di Uni Eropa. Ia harus berupaya keras mengurangi emisi karbon dioksida (CO2) dan harus ahli berdiplomasi untuk mendesak negara lain menurunkan emisi gas rumah kaca.

Game lain yang bertema perubahan sosial atau mengampanyekan antikekerasan, misalnya, adalah "Peace Maker".

Permainan ini bertemakan upaya mendamaikan konflik Israel-Palestina. Juga ada "A Force More Powerful", sebuah game strategi yang berupaya mengajari aktivis bagaimana melakukan gerakan tanpa kekerasan untuk memengaruhi kebijakan pemerintah.

Masih banyak lagi game bersifat "humanitarian" yang tersedia gratis di internet ataupun membeli yang bisa dicari lewat situs seperti Google.

Pada akhirnya, yang harus disadari adalah bahwa mengubah dunia tidak semudah meng-klik tombol tetikus (mouse) komputer. Subyek permasalahan dalam berbagai permainan ini sangat serius dan seharusnya tidak ditangani secara main-main.

Hal ini juga disadari oleh salah seorang desainer game Darfur is Dying, Susana Ruiz. "Itu adalah hal yang sangat serius dan sudah seharusnya ditangani secara serius pula," katanya dikutip Washington Post.

Memainkan karakter Jaja tidak memberikan pengalaman apa pun sebagai seorang pengungsi Darfur.

Membangun kesadaran akan lebih bermakna dengan cara melihat langsung permasalahan yang dihadapi umat manusia. Tak perlu kita jauh-jauh pergi ke Sudan atau Haiti. Cukup dengan berkeliling Kota Jakarta, kita akan menyaksikan betapa masih begitu banyak anak balita yang mengemis untuk mencari sesuap nasi.
 
sumber: Kompas
 
 
BERITA ITC TERBARU
 
Dirombak, Inikah Wajah Baru Yahoo?
Rabu, 31 Oct 2012 - view 130010x
 
Seberapa Parah Koneksi Internet di Indonesia?
Rabu, 31 Oct 2012 - view 118254x
 
Skype di Windows Phone 8
Rabu, 31 Oct 2012 - view 117210x
 
Penipuan Online Kian Canggih dan Membingungkan
Rabu, 02 May 2012 - view 157105x
 
Diakuisisi Facebook, Duo Pendiri Instagram Kaya Mendadak
Rabu, 02 May 2012 - view 139146x
 
 
 
 
 
 
 
Untitled Document
 
Copyright © 2006. Versi 3.2 @ 2011. Created by Irsyadi Siradjuddin. All Right Reserved. IDWEB.