
Mayoritas wanita yang bekerja di dunia teknologi informasi mengaku tidak puas. Mereka terutama mempermasalahkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan. Itulah hasil survei yang digelar Womenintechnology.co.uk, yang melibatkan sekitar 200 responden.
Dari survei tersebut terungkap, 55 persen responden percaya bahwa mereka memiliki keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan. Namun, sebagian besar dari mereka menambahkan kata 'walaupun' atau 'tapi' dalam jawaban mereka.
Artinya, meski percaya ada keseimbangan, masih ada hal yang membuat para wanita tidak puas. "Saya harus berjuang dengan ini (keseimbangan antara kerja dan hidup-Red) di sepanjang karierku," ujar seorang responden.
Seorang responden lain menuturkan bahwa keseimbangan itu berbeda satu pekerjaan dengan pekerjaan lain. "Aku takut setiap kali berganti pekerjaan, apakah keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan akan jadi perhatian perusahaan?" ujar responden tersebut.
Salah satu yang diharapkan para wanita adalah adanya jam kerja yang fleksibel. Dengan demikian mereka bisa mengatur agar baik kebutuhan pekerjaan maupun kehidupan pribadi tetap terpuaskan.
Seperti dikutip dari Vnunet, Jumat (25/4/2008), lebih dari tiga perempat responden mengungkapkan bahwa atasan mereka mendukung fleksibilitas dalam bekerja, tapi itu sangat terbatas. Memang secara teori disebutkan adanya fleksibilitas dalam pekerjaan, tapi tidak demikian dengan implementasinya di lapangan.